Teknologi Ingusan Buatan Inggris

Sejak dulu manusia berusaha meniru teknologi Sang Mahakarya. Mereka mempelajari rancangan yang terdapat di alam, dan mencoba memecahkan masalah berdasarkan desain yang telah ada padanya. Sebuah contohnya adalah pesawat terbang, yang diilhami oleh burung.

Contoh lain yang dewasa ini sedang dikembangkan adalah hidung buatan. ‘Hidung’ tersebut terbuat dari komponen elektronik. Meskipun begitu, pada hidung elektronik ini telah ditambahkan unsur lain yang terdapat pada hidung asli manusia. Unsur ini adalah si kental ingus alias lendir.

Ingus multifungsi

Sebagaimana dimuat Hidayatullah.Com sebelumnya, peran lendir pelapis rongga hidung sangatlah penting (baca: Rahasia Di Balik Hijaunya Ingus). Si kental ini dapat menangkal benda asing, semacam racun dan partikel teramat kecil di sekitar yang masuk ke dalam tubuh. Di sisi lain, lendir hidung memungkinkan masuknya secara cepat banyak protein, zat gizi, ion dan gas-gas terpilah ke dalam tubuh. Kemampuan lendir seperti itu dikendalikan dengan sangat teliti dan cermat pada tingkat biokimiawi.

Di samping itu, benda basah dan lengket ini juga berfungsi sebagai pelumas yang sempurna. Ini menjadikan lapisan lendir tetap melekat pada lapisan epitel.

Berhenti sampai di situkah kegunaan ingus? Ternyata tidak. Lendir hidung juga berperan penting dalam proses penginderaan bau oleh hidung. Hal inilah yang dimanfaatkan dalam pengembangan hidung elektronik.

Kenapa mesti ingusan?

Para peneliti dari Universitas Warwick dan Universitas Leicester, Inggris, telah membuat ingus buatan untuk memperbaiki hidung elektronik yang telah mereka kembangkan sebelumnya. Mereka melapisi sensor hidung elektronik itu dengan zat kental yang menyerupai lendir hidung manusia. Ingus buatan tersebut berupa campuran polimer yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadikan hidung elektronik itu lebih andal dan mampu mengenali lebih banyak lagi rupa aroma.

Hidung elektronik memiliki kurang dari 50 sensor penerima bau. Jumlah ini jauh lebih sedikit daripada sensor alami ciptaan Allah pada hidung manusia yang mencapai lebih dari 100 juta. Akibatnya hidung elektronik buatan manusia mengenali jauh lebih sedikit jenis bau dibandingkan hidung asli ciptaan Allah.

Pada hidung alami, lapisan tipis lendir pertama-tama melarutkan molekul-molekul aroma. Lalu molekul-molekul bau yang berbeda ini dipisahkan sedemikian rupa sehingga masing-masing sampai ke sel penerima rangsangan bau pada hidung dengan kecepatan yang tidak sama pula. Berdasarkan selisih waktu tempuh molekul dalam mencapai beragam sel penerima bau ini, manusia lalu mampu mengenali aneka bau yang berbeda.

Lebih baik setelah beringus

Proses ini berusaha ditiru oleh sekelompok peneliti dari kedua universitas itu dengan menggunakan teknologi ingus buatan. Mereka menempatkan polimer setipis 10 mikron pada sensor yang terdapat di hidung elektronik mereka. Polimer tersebut biasanya digunakan untuk memisahkan gas.

Kemudian mereka menguji ingus buatan itu untuk mengindera sejumlah zat, termasuk susu dan pisang yang sebelumnya menjadi tantangan bagi alat itu. Para peneliti ternyata memperoleh fakta bahwa hidung ingusan kembangan mereka dapat membedakan keduanya.

“Lendir buatan kami tidak hanya memberikan kemampuan membedakan bau yang lebih baik pada hidung elektronik, namun juga memberikan waktu analisis yang lebih singkat dibandingkan teknik biasa”, kata peneliti dari Universitas Warwick, Prof. Julian Gardner.

Alat lengkap berupa hidung buatan ini, termasuk di dalamnya sensor dan ingus buatan, dikemas dalam lapisan plastik tipis sebesar beberapa sentimeter persegi saja. Pembuatannya memakan biaya kurang dari 5 poundsterling Inggris (10 dolar AS).

Bertaqwa karena ingus

Inilah satu dari sekian banyak teknologi buatan manusia yang meniru ciptaan Allah. Sungguh, karya manusia bukanlah apa-apa dibanding mahakarya-Nya. Manusia hanya bisa meniru keagungan desain di alam yang telah Allah ciptakan untuknya. Tak terkecuali ingus sekalipun.

Karena itu, manusia wajib mengakui kehebatan Penciptaan dirinya, termasuk penciptaan hidung dan lendirnya yang sempurna. Manusia hendaknya mensyukuri nikmat Allah ini dan menjadi pribadi bertaqwa, sebagaimana perintah-Nya:

“Dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.” (QS. Asy Syu’araa, 26:184). Sumber Hidayatullah.com Penulis artikel ini adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: